Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Observatorium Nasional Timau, Pengawas Langit dari Timor
Writter : • Media : • 09 Nov 2017 • Read : 1705 x ,

Indonesia akan segera memiliki pengawas langit yang baru. Observatorium Nasional Timau akan mulai dibangun di kawasan hutan lindung lereng Gunung Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT.

 

timou1

Astronomi dan Indonesia itu identik dengan Observatorium Bosscha yang dibangun pada tahun 1923. Lebih dari 90 tahun sudah Observatorium riset satu-satunya di Indonesia ini menjadi saksi perjalanan panjang astronomi di negeri ini.  Selain Observatorium Bosscha, LAPAN juga memiliki balai pengamatan di Sumedang dan Pasuruan yang juga terlibat dalam riset khususnya untuk Matahari dan cuaca antariksa.

Harapan untuk membangun Observatorium baru pun mengemuka sejak tahun 1980-an. Beberapa lokasi baik di Indonesia bagian barat maupun timur jadi pertimbangan.  Ide serupa kembali muncul di awal tahun 2000-an dan berbagai kajian pun dilakukan oleh para astronom.

Kebutuhan Observatorium baru dirasa sangat perlu karena pembangunan di Bandung dan Lembang menghasilkan polusi cahaya yang berdampak pada pengamatan langit malam. Selain itu, terjadi peningkatan temperatur rata-rata sekitar 2º dan angkasa yang makin berdebu. Akibatnya, malam cerah untuk pengamatan di Observatorium Bosscha juga semakin sedikit. Pada tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya dan pada tahun tahun 2008, Observatorium Bosscha ditetapkan sebagai salah satu Objek Vital Nasional yang harus diamankan.

Menurut Emanuel Sungging Mumpuni, peneliti dari LAPAN, “para astronom harus bisa memastikan kalau langit di area NTT memang bagus untuk pengamatan atau memiliki cukup banyak malam fotometrik, untuk bisa mendapatkan data yang bermanfaat. Malam seperti ini harus gelap total, bebas dari cahaya bulan, awan dan tentu saja bebas polusi cahaya”. 

Disepakatinya Undang-undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, membuka ruang untuk pengembangan astronomi di Indonesia. UU No. 21/2013 mengamanatkan bangsa Indonesia untuk mandiri dalam sains dan teknologi keantariksaan, termasuk astronomi dan astrofisika.

Untuk itu, kehadiran Observatorium Nasional (OBNAS) Timau di NTT beserta program-program penelitian, pengembangan masyarakat dan edukasi akan sangat mendukung percepatan pembangunan di Indonesia Timur.

Sampai saat ini, teleskop terbesar di asia tenggara berada di utara yakni di Thailand. OBNAS yang berada dekat Khatulistiwa jelas memberi keuntungan lain karena bisa mencakup pengamatan sebagian langit utara dan selatan.

 

Berkenalan Dengan Observatorium Nasional Timau

 

timau2

Masterplan Observatorium Nasional Timau. Kredit: Rhorom Priyatikanto / LAPAN

 

Timau dipilih, selain kondisi alamnya, juga kondisi geografis dan kependudukannya, dimana kondisi langit bebas polusi cahayanya bisa bertahan lama, seperti Bosscha dahulu. Diharapkan Gunung Timau bisa mengakses langit bebas polusi cahaya, setidaknya sampai 50 tahun kedepan, seperti Bosscha yang bisa menikmati langit malam bebas polusi setidaknya selama 60 tahun ( era 1920-an – 1980-an). – Thomas Djamaluddin, Kepala LAPAN RI

Baca juga:  Rangkaian Kegiatan GMT 2016: Goes to Kaltim

 

Tidak mudah untuk membangun teleskop besar.  Ada dua pilihan yakni teleskop pemantul dengan cermin tunggal kaku (rigid), cermin tunggal lentur (flexible), dan cermin majemuk (segmented). Pilihan pun jatuh pada cermin majemuk karena desainnya dianggap paling sesuai untuk melakukan penelitian astronomi. Selain itu, pertimbangan pembiayaan tepat guna (cost effectiveness) serta kemudahan operasional dan perawatan menjadi alasan pemilihan cermin majemuk.

 

timau3

Teleskop 3,8 meter yang akan dibangung di Observatorium Nasional Timau. Kredit: Rhorom Priyatikanto / LAPAN

Teleskop 3,8 meter akan memiliki arsitektur optik Ritchey-Chrétien dengan cermin primer dan sekunder berbentuk hiperbola serta sebuah cermin tersier yang memantulkan cahaya ke bidang fokus Nasmyth. Desain ini akan meminimalisasi cacat bayangan yang terbentuk serta memudahkan penggunaan instrumen canggih berbobot besar.  Teleskop 3,8 meter di OBNAS Timau ini akan dirancang oleh Dr. Mikio Kurita dan dibangun oleh Nishimura Optical, seperti teleskop Okayama 3,8 meter di Universitas Kyoto.

Melengkapi teleskop di OBNAS Timau, akan ada instrumen penunjang lain seperti Charged Coupled Device (CCD) serta spektrograf resolusi menengah yang bisa dipergunakan untuk pengamatan galaktik dan ekstragalaktik.

 

Kehadiran Observatorium Nasional Timau memang memiliki keunikan tersendiri. Rumah baru astronomi di timor ini berada di dekat katulistiwa, sehingga punya peluang untuk mengamati bumi belahan utara dan selatan, dan mengisi lintang pengamatan antara China, Jepang dan Australia. Cakupan langit yang bisa diamati mencapai 95% dan dengan teleskop 3,8 meter, pengamatan bisa dilakukan sampai dengan kecerlangan 21,5 magnitudo. Sangat redup sehingga pengamat bisa melihat Matahari dari jarak 70.000 tahun cahaya atau Bima Sakti jika berada pada jarak 8 milyar tahun cahaya.

timau4

Cakupan langit yang bisa diamati dari Observatorium Nasional Timau. Kredit: Rhorom Priyatikanto / LAPAN

Baca juga:  Komet C/2013 X1 PanSTARRS di Rasi Microscopium

Kehadiran OBNAS Timau juga membuka babak baru perjalanan astronomi di Indonesia, khususnya sebagai laboratorium astronomi tingkat nasional yang dapat dimanfaatkan oleh para astronom dan peneliti di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.  Hal ini tentu akan menjadi pemicu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai daerah, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Dengan fasilitas pengamatan yang ada, berbagai penelitian seperti studi benda kecil di Tata Surya, fotometri dan spektroskopi planet di Tata Surya dan exoplanet, pengamatan bintang variabel dan bintang eksotis,  pembentukan dan evolusi gugus bintang, struktur dan dinamika galaksi, serta studi galaksi aktif yang memiliki lubang hitam di dalamnya.

Selain asteroid, penelitian planet-planet di Tata Surya maupun di bintang lain penting untuk bisa memahami pembentukan planet serta memahami karakteristik fisik dari sistem keplanetan yang masing-masing memiliki keunikan. Untuk itu, pengamatan dengan metode transit bisa dilakukan dari OBNAS.

OBNAS Timau juga akan menyediakan layanan efemeris terkait posisi benda langit sebagai fungsi waktu, dalam bentuk publikasi almanak astronomi nasional secara berkala.  Untuk saat ini, layanan efemeris dalam bentuk almanak astronomi bisa diakses di situs U.S. Nautical Almanac Office, United States Naval Observatory (USNO).  Kegiatan ini kelak dapat diperluas dengan pengembangan teknik pengamatan hilal (sabit tipis Bulan) serta koordinasi jejaring pengamatan nasional. Salah satunya pengembangan pengamatan bersama BMKG terkait riset cuaca, iklim, dan kegempaan. Salah satu usulan terkait pengembangan pemanfataan OBNAS dari UNDANA (Universitas Nusa Cendana) di Kupang adalah pengamatan exoplanet, implementasi fisika citra pada teleskop, remote controlling dan automation, riset Shack-Hartmann wavefront sensor, riset teknik koreksi cermin teleskop secara elektromagnetik, dan aktivitas Matahari.

OBNAS Timau sudah memasuki masa pembangunan dan direncanakan akan melakukan penerimaan cahaya pertama atau first light pada akhir tahun 2019  atau awal tahun 2020.

Sumber: langitselatan - Rabu, 8 Nov 2017, 16:00 WIB | Penulis: Avivah Yamani

 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. DR. Djundjunan 133 Bandung 40173 Indonesia
Telp. (022)6012602 Fax.(022)6014998.




© 2014 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL